Jumat, 03 Juli 2026

HONOCOROKO

 *MIMBAR KEHIDUPAN   ðŸ‡²ðŸ‡¨ KEJAWEN : AKSARA JAWA*

_*Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh*_

_*Salam Sejahtera*_

_*Hoom Swasti Astu*_

_*Namo Buddhaya*_

_*Rahayu Semesta Nusantara*_


_*Diakui atau tidak, Aksara Jawa merupakan Alphabet yang paling Unik di-Dunia dan mempunyai makna yang paling dalam*_


_*Ditinjau dari jumlahnya, terdiri dari 20(duapuluh) jenis huruf, yang melambangkan*_ _*"20(duapuluh) Jari Manusia"*_


_*Jari, merupakan alat hitung manusia yang paling sederhana, dan hal ini melambangkan bahwa : "Dalam menjalani kehidupannya, Orang Jawa selalu menggunakan perhitungan yang matang sebelum melangkah"*_


_*Deretan 20(duapuluh) Aksara Jawa dimaksud terdiri dari :*_

*1. Ho~No~Co~Ro~Ko*

*2. Do~To~So~Wo~Lo*

*3. Po~Dho~Jo~Yo~Nyo*

*4. Mo~Go~Bo~Tho~Ngo*


_*Entah kebetulan atau disengaja, deretan dari huruf-huruf tersebut diatas, ternyata :*_ 

_*"bukan deretan huruf tanpa makna"*_

_*Namun membentuk 4(empat) kalimat yang mengandung :*_ _*"makna & filosofi yang luar biasa" yaitu :*_


*1. HO--NO--CO--RO--KO*

_*Jika dibaca :*_

_*"hono coroko" akan bermakna sebagai : "Ada Utusan"*_

_*Pertanyaannya, siapa yang dimaksud dengan*_

_*Utusan tersebut ?*_


_*Yang dimaksud, tidak lain dan tidak bukan adalah :*_ _*"manusia"*_


_*Berbeda dengan pendapat umum :*_

_*"Bahwa Utusan Tuhan hanya terbatas kepada Rasul saja" bagi Orang Jawa - setiap Manusia adalah adalah : "Utusan Tuhan"*_


_*Setiap insan manusia berkewajiban :*_

_*"Hamemayu hayuning Bawono"*_

_*Menjaga kelestarian alam, memakmurkan bumi, menciptakan kedamaian dan keselamatan dialam dunia*_


_*Dengan demikian, intinya  Ho-No-Co-Ro-Ko-itu adalah :*_

_*"melambangkan perjalanan hidup manusia"*_


*2. DO--TO--SO--WO--LO*

_*Dalam hal ini, jika dibaca menjadi :*_

_*"dat-a-suwolo" yang bermakna :*_

_*"Dzat yang tidak boleh dibantah"*_


_*Apa maksudnya dan siapa yang dimaksud ?*_

_*Tidak lain dan tidak bukan adalah :*_

_*"Tuhan Yang Maha Esa"*_


_*Tuhan adalah Dzat yang tidak boleh dibantah oleh Manusia yang menjadi utusan-NYA*_


_*Sehebat apapun Manusia dimuka Bumi ini, tidak ada yang mampu menandingi kekuasaan Tuhan*_


_*Sekali lagi :*_ _*"Manusia hanya bersifat sebagai Utusan, bukan Penguasa"*_

_*Oleh karena itu, wajib untuk tunduk terhadap aturan yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta dan Pengurus, yang sering disebut dengan istilah :*_

_*"Kodrat atau Hukum Karma".*_


*3. PO--DHO--JO--YO--NYO*

_*Dalam hal ini, bisa dibaca sebagai :*_

_*"Podho Jayane"*_  _*Yang bermakna sebagai :*_

_*"Sama-Sama Unggulnya"*_


_*Siapa yang sama-sama unggul ?*_

_*Yang sama-sama unggul*_

_*"Ya Jasmani ya Rohani"*_


_*Dalam menjalankan perannya sebagai Utusan Tuhan, manusia wajib menjaga :*_

_*"Keseimbangan antara Urusan Jasmani dan Rohani"*_


_*Seorang Insan-Manusia, tidak dibenarkan ber-Karya tanpa dilandasi dengan niat Ibadah, karena :*_

_*"Bekerja dengan cara tersebut hanya melahirkan Keserakahan"*_

_*Yang membuatnya keluar dari tujuan hidup yang sebenarnya*_


_*Sebaliknya, manusia juga tidak dibenarkan melakukan :*_ _*"Sembahyang saja tanpa disertai dengan bekerja"*_


_*Orang yang melakukan sembahyang saja tanpa bekerja, sesungguhnya termasuk :*_ _*"Golongan yang Egois"*_


_*Dia hanya mementingkan diri-sendiri, dengan harapan ingin masuk surga, namun tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, termasuk keberadaan tubuhnya*_


_*Seorang manusia yang sempurna (insan-kamil) adalah :*_ _*"Dia yang bisa bekerja dengan dilandasi semangat Ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa"*_


_*Yang lebih menarik lagi, Orang Jawa dalam beribadah "tidak mengharapkan pahala"  karena semboyan hidupnya adalah :*_ _*"Narimo ing pandum, menerima pemberian-NYA, dan sekali lagi menerima, bukan menghapkan apalagi meminta"*_


*4. MO--GO--BO--THO--NGO*

_*Dalam hal ini, merupakan singkatan dari : sukMO roGO BATHANG, yang bermakna sebagai :*_

_*"ruh-tubuh dan bangkai"*_


_*Maksudnya adalah bahwa kalimat ini merupakan*_

_*"Akhir dari perjalanan manusia sebagai Khalifah Tuhan dibumi"*_


_*Jika Roh meninggalkan Tubuh, maka yang tersisa hanya tinggal bangkainya saja*_

_*Dan dalam kondisi ini, manusia sudah tidak lagi disebut manusia, karena eksistensinya telah berakhir*_


_*Kalimat terakhir ini mengingatkan kepada Manusia : "Agar tidak terlalu membanggakan dirinya"*_

_*Karena jika Sang Roh pergi meninggalkan tubuhnya, maka yang tersisa hanya tinggal bangkai saja*_


_*Kalimat ini juga mengingatkan kepada manusia, bahwa :*_

_*"Tubuh hanyalah Kendaraan bagi Sang Roh dalam menjalankan perannya sebagai Utusan Tuhan"*_


_*Dan tanpa Roh, maka Raga hanyalah bangkai yang sudah tidak berarti apa-apa*


_*Walaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh*_

*Semoga Tuhan Yang Maha Esa Memberkati Kita Semua*

*Aamiin Yaa Robbal Alamin*

*Aamiin Allahuma Aamiin*

*Hoom Santi Santi Hoom*

*Namo Buddhaya*

*Rahayu Semesta Nusantara*


_*@ C|S|G|S :*_


MENTERI YG HIDUP sederhana

 Kisah Syafruddin Prawiranegara: Menteri yang Hidup Sederhana, Istrinya Berjualan Sukun Goreng Demi Keluarga


Di balik perjuangan mempertahankan Republik Indonesia, ada sosok yang jasanya begitu besar, tetapi kisah hidupnya jarang diceritakan. Dialah Mr. Syafruddin Prawiranegara.


Beliau pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menteri, hingga memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 207 hari. Amanah itu diberikan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ketika Belanda menyerbu Yogyakarta pada tahun 1948. Berkat PDRI, eksistensi Republik Indonesia tetap terjaga di mata dunia.


Namun, di balik jabatan-jabatan besar tersebut, kehidupan pribadi Syafruddin jauh dari kemewahan.


Ada sebuah kisah yang begitu menyentuh. Suatu hari, istrinya, Tengku Halimah atau yang akrab disapa Lily, berkata kepada putri sulung mereka,


"Ayahmu mengurus uang negara, tetapi tidak memiliki uang untuk membeli sepotong kain gurita bagi adikmu yang baru lahir."


Kalimat itu bukan sekadar ungkapan.


Itulah kenyataan yang mereka jalani.


Meski mengelola keuangan negara, Syafruddin tidak pernah tergoda menggunakan uang negara, bahkan untuk memenuhi kebutuhan bayinya sendiri. Baginya, amanah adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimanfaatkan demi kepentingan pribadi.


Pengorbanan keluarga itu tidak berhenti sampai di sana.


Ketika Syafruddin bertugas di Sumatra memimpin PDRI demi menyelamatkan republik, sang istri harus berjuang seorang diri membesarkan empat anak mereka. Demi mencukupi kebutuhan keluarga dan membeli susu untuk anak-anaknya, Lily memilih berjualan sukun goreng.


Suatu hari, anak sulungnya bertanya,


"Mengapa kita tidak meminta bantuan kepada Bung Karno atau Bung Hatta?"


Lily menjawab dengan tenang,


"Ayahmu selalu berpesan agar kita tidak bergantung kepada orang lain. Jangan berutang jika tidak benar-benar terpaksa."


Anaknya kembali bertanya,


"Apa Ibu tidak malu berjualan? Bukankah Ayah seorang pejabat besar?"


Lily pun memberikan jawaban yang menjadi pelajaran hidup bagi anak-anaknya.


"Yang membuat kita malu bukanlah bekerja keras. Yang harus membuat kita malu adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita, apalagi uang negara. Mungkin manusia tidak tahu, tetapi Allah Maha Mengetahui."


Bertahun-tahun kemudian, Farid Prawiranegara, putra bungsunya, mengenang perjuangan sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia membenarkan bahwa ibunya benar-benar berjualan sukun goreng tanpa pernah mengeluh, sementara ayahnya mengabdikan diri untuk mempertahankan negara.


Kisah keluarga Syafruddin Prawiranegara mengajarkan bahwa menjadi pejabat bukanlah jalan menuju kemewahan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Beliau membuktikan bahwa kehormatan seorang pemimpin bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kejujuran, integritas, dan kesediaannya berkorban demi bangsa.


Mereka mungkin tidak mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya.


Namun, mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: nama baik, kejujuran, keteladanan, dan cinta yang tulus kepada Indonesia.


Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang cerdas, tetapi juga oleh pemimpin yang jujur dan berintegritas.     

Masih adakah pemimpin dengan keteladanan seperti Syafruddin Prawiranegara di Indonesia saat ini?

Rabu, 01 Juli 2026

WARUNG MADURA

 


Minggu, 28 Juni 2026

Kerja keras WANITA

 

WANITA ini begitu gigihnya dan dengan susah payah memotong mengangkat dan menggotong sebuah kayu yang tentu sangat berat.   Dan dg pakaian rapi tdk seperti pekerja petani Indonesia , ia melakukan pekerjaan itu yang mana kalo di Indonesia adalah pekerjaan seorang laki laki. Lalu mengapa ia lakukan yang demikian berat itu....,tentu adalah karena tuntutan untuk terpenuhinya kebutuhan hidupnya. Andai ia bisa hidup dengan kerja atau pekerjaan yang tidak berat itu, mka mestilah ia tidak akan melakukan pekerjaan yang demikian berat.                                     Semoga Allah Yang Maha Kuasa memudahkan dan memberi pertolongan pada hamba mahluknya dimuka bumi ini.

Rabu, 31 Desember 2025

Ngaji dulu