Jumat, 30 September 2022

OLLE OLLANG TYFA

 


Kamis, 29 September 2022

Tentang BEP

 Artikel Break Even Point (BEP): Manfaat dan Rumus Cara Menghitungnya

Break Even Point (BEP): Manfaat dan Rumus Cara Menghitungnya

16 Jun 2021

Ditulis oleh: Redaksi OCBC NISP



Ingin memulai bisnis? Belajar tentang break even point (BEP) dulu yuk!


Break even point adalah komponen perhitungan bisnis terpenting bagi pengusaha. Tanpa memahami cara menghitung break even point, pebisnis terancam mengalami kerugian mendadak. Dalam bahasan kali ini, OCBC NISP akan mengajak sobat memahami BEP, manfaat break even point, rumus cara menghitung hingga contohnya.



Pengertian Break Even Point (BEP)

BEP, atau break even point adalah perhitungan keuangan dasar yang menunjukkan berapa modal dibutuhkan untuk membuat produk berjumlah sekian. Oleh sebab itulah, BEP selalu menunjukkan persamaan jumlah biaya dan harga produk.


Bagi seorang pengusaha, pemahaman tentang break even point adalah hal mutlak. Tanpa kemampuan menghitung BEP, pebisnis akan mengalami banyak masalah, mulai dari kesulitan menentukan margin laba sampai memprediksi kapan bisnisnya balik modal.



Manfaat Break Even Point

Setelah membahas pengertian break even point, kali ini kita akan membahas lebih detail bagaimana pentingnya BEP bagi pengusaha. Adapun manfaat break even point adalah sebagai berikut.


Mengetahui Biaya Total Produksi

Poin pertama manfaat break even point adalah untuk mengetahui total biaya yang dikeluarkan demi memproduksi sejumlah barang. Saat melakukan perhitungan BEP, Anda juga otomatis menghitung biaya produksi Anda, mulai dari biaya tetap (fixed cost) sampai biaya variabel (variable cost).


Sebagai Dasar Perhitungan Laba

Di dunia bisnis, ada istilah margin profit, yaitu ukuran standar profit atas setiap buah produk. Jika ingin menentukan margin profit, break even point adalah hal pertama yang perlu Anda hitung. Sebagai contoh, Anda ingin mendapat profit sebesar Rp10 ribu per produk terjual. Maka harga produk Anda idealnya adalah nominal BEP ditambah dengan margin profit tersebut.


Estimasi Waktu Balik Modal

Manfaat break even point berikutnya adalah untuk mengetahui estimasi balik modal. Mayoritas bisnis harus rela merugi di awal pendirian, karena brand awareness produk belum terbangun.


Agar tahu sampai kapan kerugian ini terjadi, pebisnis harus mengetahui berapa banyak produk harus terjual sekaligus lama penjualannya. Tanpa BEP, estimasi jumlah produk terjual tidak akan bisa dihitung, sehingga durasi penjualan juga tidak dapat diperkirakan.


Analisa Profitabilitas Bisnis

Poin terakhir manfaat break even point adalah untuk menganalisa apakah bisnis benar-benar bisa menghasilkan keuntungan. Perhitungan break even point adalah pondasi guna menentukan profitabilitas. Anda tidak akan tahu bisnis Anda profit atau rugi tanpa mempelajari cara menghitung break even point.



Elemen-Elemen Dalam BEP

Setelah membahas manfaat break even point, kali ini OCBC NISP akan menjelaskan beberapa elemen penyusun BEP. Adapun elemen-elemen break even point adalah sebagai berikut.


Biaya Tetap (Fixed Cost)

Elemen pertama break even point adalah biaya tetap, atau disebut juga dengan fixed cost. Biaya tetap adalah biaya pokok yang akan selalu dikeluarkan perusahaan, bahkan saat tidak memproduksi apa-apa. Beberapa contoh biaya tetap misalnya biaya sewa gedung, biaya perawatan mesin, kendaraan, dan sebagainya.


Biaya Variabel (Variable Cost)

Elemen berikutnya break even point adalah biaya variabel. Kebalikan dari biaya tetap, nominal variable cost mengikuti jumlah produksi yang dihasilkan perusahaan. Beberapa hal termasuk ke dalam variable cost adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, peralatan sekali pakai, dan sebagainya.


Biaya Campuran (Mixed Cost)

Biaya campuran atau mixed cost adalah kombinasi biaya tetap dan variabel. Biaya ini biasanya memiliki nominal default yang wajib dibayarkan meski tidak ada aktivitas produksi. Akan tetapi, saat produksi dilakukan, jumlahnya juga akan terus meningkat mengikuti output produksi. Contoh-contoh pengeluaran yang termasuk mixed cost misalnya tagihan listrik, tagihan air, biaya bensin kendaraan, pelumas mesin, dan sebagainya.


Harga Pokok Penjualan (HPP)

Setelah biaya-biaya dijumlah, akan terbentuk satu elemen BEP baru, yaitu harga pokok penjualan (HPP). Harga ini merupakan harga murni yang nominalnya sama persis dengan BEP, bahkan banyak orang menyebut keduanya sinonim. Sama dengan BEP, nilai laba di dalam harga pokok penjualan adalah 0.


Margin Laba

Elemen terakhir break even point adalah margin laba, sesuatu yang wajib Anda tambahkan pada harga produk begitu BEP-nya terhitung. Seperti sudah dijelaskan di atas, penentuan margin laba ada dalam kekuasaan Anda sebagai pemilik bisnis. Anda bisa menetapkan margin laba dengan nominal berapapun, sesuai harga jual produk yang Anda inginkan.



Baca Juga:


Bagaimana Cara Menentukan Harga Jual Produk? Ini 7 Metodenya


Cara Menghitung Break Even Point & Rumusnya

Setelah membahas pengertian break even point, manfaat, dan elemen penyusunnya, di bawah ini akan dibahas cara menghitung break even point dengan berbagai metode. Selengkapnya tentang rumus-rumus break even point adalah sebagai berikut.


Per Unit

Cara menghitung break even point pertama adalah dengan menggunakan metode BEP per unit. Tolak ukur metode ini adalah nominal fixed cost, yang kemudian dibagi dengan harga per unit setelah dikurangkan variable cost. Metode BEP per unit ini cocok jika Anda ingin mengetahui kontribusi produk per unit terhadap pencapaian laba penjualan.


Rumus break even point per unit (BEP Per Unit) yaitu:

BEP Per Unit = Fixed Cost / (Harga Per Unit - Variable Cost Per Unit)


Contoh break even point per unit:

Per April 2021, operasional PT. Sinar Agung menghabiskan fixed cost sebesar Rp150 juta untuk memproduksi 100 ribu produk, dengan variable cost per unit adalah Rp60 ribu, dan harga per unit produk adalah Rp100 ribu. Maka BEP per unit-nya adalah:


BEP Per Unit =

= Rp150,000,000 / (Rp100,000 - Rp60,000)

= Rp150,000,000 / Rp40,000

= Rp3,750


Dengan demikian, BEP Per Unit PT. Sinar Agung per April 2021 adalah Rp3,750.


Per Penjualan

Poin kedua cara menghitung break even point adalah dengan berlandaskan pada nilai penjualan. BEP Per Penjualan adalah BEP yang dihitung berdasarkan biaya tetap dibagi selisih antara harga jual dan perbandingan variable cost dengan harga.


Berdasarkan metode ini, rumus break even point adalah:

BEP Per Penjualan = Fixed Cost / [1 - (Total Variable Cost/Harga Total)]


Contoh break even point per penjualan:

Per Januari 2021, Pak Aman berhasil mendapatkan omzet sebesar Rp100 juta, dengan pengeluaran fixed cost sebesar Rp20 juta dan variable cost sebesar Rp40 juta. Dengan demikian, BEP per penjualan Pak Aman adalah:


BEP Per Penjualan =

= Rp20,000,000 / [1 - (Rp40,000,000/Rp100,000,000)]

= Rp20,000,000 / (1 - 0.4)

= Rp20,000,000 / 0,6

= Rp33,333,333


Dengan demikian, BEP Per Penjualan Pak Aman bulan Januari 2021 adalah Rp33,3 juta.


Per Biaya

Metode terakhir perhitungan break even point adalah berdasarkan biaya pokok, minus margin laba atau harga jual. Cara menghitung break even point per biaya inilah yang paling sering digunakan, karena rumusnya jauh lebih mudah.


Berdasarkan biaya, rumus break even adalah sebagai berikut:

CV. Sejahtera Tani di bulan Maret 2021 memproduksi 500 unit pupuk, dengan fixed cost sebesar Rp15 juta dan variable cost sebesar Rp60 ribu per unit pupuk. Jika berdasarkan biaya, maka BEP CV. Sejahtera Tani adalah:


Total Variable Cost = Rp60,000 X 500 unit = Rp30,000,000


BEP Per Biaya =

= (Total Fixed Cost + Total Variable Cost) / Total Unit

= (Rp15,000,000 + Rp30,000,000) / 500

= Rp45,000,000 / 500

= Rp90,000


Dengan demikian, BEP per biaya CV. Sejahtera Tani pada Maret 2021 adalah Rp90 ribu/unit. Jika ingin profit, maka CV. Sejahtera Tani harus menetapkan harga pupuk per sak lebih tinggi dari BEP tersebut.



Demikian bahasan tentang apa yang dimaksud dengan break even point, manfaat, rumus, cara hitung, dan contohnya. Perhitungan BEP adalah proses yang wajib ditempuh setiap pebisnis sebelum meluncurkan produknya ke pasar, jadi jangan sampai Anda lewatkan ya! 


Edukasi - 27 Sep 2022

Selasa, 27 September 2022

VIDE0 PPT RARK 2023

 


Cara Copy dari excel ke word


 

Minggu, 25 September 2022

Sepintas ttg asta Belingi dan Nyamplong

 [https://images.app.goo.gl/F1jMZzj8SCsFqdtW8



23/9 21.17] Ludfi: Jejak Sejarah Sapudi, Salah Satu Pusat Pemerintahan Sumenep

 Nama Sapudi mulai dikenal dalam sejarah, saat Ario Pulangjiwo, seorang pemegang kuasa di Pamekasan di era menjelang kemunduran Majapahit, dipindah tugaskan ke pulau ini. Dalam sejarah Sumenep, Ario Pulangjiwo dikatakan penguasa Islam di Pulau Sapudi. Secara genealogi, Ario Pulangjiwo masih merupakan putera Sayyid Ali Murtadla, saudara kandung Sunan Ampel, Denta, Surabaya.


“Ario Pulangjiwo selanjutnya dikenal dengan nama Panembahan Walinge atau Wlinge alias Balinge atau Blingi. Beliau sejaman dengan Pangeran Ario Saccadiningrat II, Raja Sumenep. Dalam kisah babad, maupun beberapa literatur sejarah tentang Sumenep maupun Madura, keduanya dikisahkan berbesanan. Putera tertua Pulangjiwo, Ario Baribin atau Bribin menikah dengan Raden Ayu Saini. Ario Baribin ini di Sumenep lebih dikenal dengan panggilan Adipoday. Sedangkan Raden Ayu Saini lebih dikenal sebagai Pottre Koneng. Keduanya lantas berputra 2 orang, Joko Tole, dan Agus Wedi,”kata salah seorang pemerhati sejarah di Sumenep, R. Aj. Rabiatul Adawiyah pada News Room.


Menurut Rabiatul, setelah mangkatnya Saccadiningrat II pada tahun 1386 Masehi, Adipoday menggantikan kedudukan mertuanya. Namun, beliau justru kembali ke Sapudi berkumpul dengan ayahnya. Karena ayahnya, Panembahan Blingi masih hidup, Sumenep dikuasakan pada beliau.


“Baru setelah ayahnya meninggal tahun 1399 M, Adipoday secara resmi menjadi Raja Sumenep dengan bergelar Panembahan Poday alias Panembahan Wirokromo. Pusat pemerintahan tetap di Sapudi. Sementara di Sumenep sendiri, diwakili oleh Joko Tole,”jelas Rabiatul.


Rabiatul menambahkan, Panembahan Poday dikenal dengan kebiasaan dzikirnya. Setiap siang dan malam tangannya senantiasa memegang tasbih. Tasbih tersebut diceritakan berasal dari buah Nyamplong atau Camplong.


Oleh karena itu, beliau memerintah rakyatnya, terutama para alim-ulama di Sapudi dan santri-santri, agar menggunakan tasbih dari buah Nyamplong.


“Akhirnya rakyat Sapudi beramai-ramai menanam pohon Nyamplong. Tujuan awal dan utamanya untuk mendapatkan biji Nyamplong. Namun, lama-kelamaan, karena kayu Nyamplong ternyata sangat kuat, maka mulailah rakyat disana

[23/9 21.23] Ludfi: memanfaatkannya sebagai bahan utama membuat pekakas perahu. Bahkan hingga kini, kayu Nyamplong masih dipakai orang terutama untuk kemudi dari perahu-perahu di kepulauan Madura,” imbuhnya.


Bahkan, Nyamplong dijadikan nama Desa tempat Keraton Panembahan Poday berdiri. Desa tersebut juga sekaligus menjadi lokasi makam Panembahan Poday, sehingga kemudian dikenallah nama “Panembahan Nyamplong”, “Keraton Nyamplong”, dan “Asta Nyamplong”, yang kesemuanya merujuk pada Panembahan Poday.


“Makam Panembahan Poday hingga kini keramat, dan sejak masa lampau selalu diziarahi orang-orang di Pulau Madura, dan daerah-daerahh pesisir di Jawa Timur,”tutup Rabiatul. ( Farhan, Esha )